Nama Samaran
Aku sedang mencintai seorang laki-laki.
Laki-laki berkemaja lengan panjang yang mengendarai motor butut.
Dia sopan.
Senyum manis yang merona dilekuk pipinya menggambarkan kesetiaan.
Dia setia.
Aku jatuh cinta.
Aku sedang mencintai seorang laki-laki.
Laki-laki yang sederhana, berumur lebih tua dari aku.
Aku sedang mencintai seorang laki-laki.
Laki-laki yang namanya selalu membenam di hati
Laki-laki yang tak memuja dan tak bersandiwara
Laki-laki yang terlihat konyol di depan tapi begitu memesona di belakang.
Aku sedang mencintai seorang laki-laki.
Laki-laki yang apabila berbicara tidak berbusa
Tiada bekas alkohol yang menyelimuti lapisan bibir, lidah dan kerongkongan
Tiada bekas gincu wanita yang melekat di keningnya
dan tiada bekas bedak tebal yang memoles pipinya
Laki-laki itu bernama Albetha,
seorang pemuda yang tak ingin diketahui nama aslinya.
Dongeng Kopi, 19 April 2016
Puisi di atas hanya sebuah keisengan tanpa batas. Lebih baik tumpah, daripada penuh. Karena sesuatu yang tumpah akan mudah dinikmati. Tapi puisi di atas bukan sebagai keinginan penulis. Bukan pula karena kecanduaan hasratnya. Dia hanya ingin mempresentasikan tokoh "aku" sebagai orang ketiga serba tahu.
Laki-laki berkemaja lengan panjang yang mengendarai motor butut.
Dia sopan.
Senyum manis yang merona dilekuk pipinya menggambarkan kesetiaan.
Dia setia.
Aku jatuh cinta.
Aku sedang mencintai seorang laki-laki.
Laki-laki yang sederhana, berumur lebih tua dari aku.
Aku sedang mencintai seorang laki-laki.
Laki-laki yang namanya selalu membenam di hati
Laki-laki yang tak memuja dan tak bersandiwara
Laki-laki yang terlihat konyol di depan tapi begitu memesona di belakang.
Aku sedang mencintai seorang laki-laki.
Laki-laki yang apabila berbicara tidak berbusa
Tiada bekas alkohol yang menyelimuti lapisan bibir, lidah dan kerongkongan
Tiada bekas gincu wanita yang melekat di keningnya
dan tiada bekas bedak tebal yang memoles pipinya
Laki-laki itu bernama Albetha,
seorang pemuda yang tak ingin diketahui nama aslinya.
Dongeng Kopi, 19 April 2016
Puisi di atas hanya sebuah keisengan tanpa batas. Lebih baik tumpah, daripada penuh. Karena sesuatu yang tumpah akan mudah dinikmati. Tapi puisi di atas bukan sebagai keinginan penulis. Bukan pula karena kecanduaan hasratnya. Dia hanya ingin mempresentasikan tokoh "aku" sebagai orang ketiga serba tahu.