Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Laki-laki Aneh

Seorang laki-laki kurus dari balik pintu itu berjalan membungkuk. Dia membawa dua kardus air mineral kemasan. Dua bola matanya serius memandang ke arahku yang tengah menanti tamu dari negeri seberang. Kemudian dia meletakkan dua kardus air mineral itu di atas sebuah meja panjang berwarna coklat. "Huh, lelah. Pegal sekali badan ini. Dua kardus sudah kuletakkan, dua kardus yang lain masih di ruangan. Jika saja aku punya kaki kuda, aku pasti cepat." Dia berceloteh tak menentu. "Dari mana, mas?" tanyaku padanya. "Dari ruang sebelah. Capek banget, mas. Mau bantu saya ambil dua kardus lagi?" Aku berpikir sejenak. "Oh, boleh, mas. Kebetulan saya sedang menunggu tamu dari negeri seberang." "Tamu dari negeri seberang?" Dia bertanya bingung. Mungkin dia bingung pada kata "negeri seberang". Belum sudah dia mengajakku, aku malah ditinggalkan. "Eh, mas. Tunggu." Aku memanggil setengah berla...

Pemuda Berkepala Plontos

Seorang pemuda berkepala plontos masuk dari arah pintu depan. Dia hanya lewat tanpa tegur sapa. Sepertinya dia terburu-buru, gelagaknya tak terkendali. Sinis dan sedikit angkuh. Pemuda itu juga tidak menghiraukan suara angin yang masuk melalui lubang telinga dan hidungnya. Bahkan dua orang laki-laki di depannya tidak dianggap. Uhh ... kejadian malam ini memilukan

Celah

Pertama, aku melihatnya di depan kaca sebelah kanan. Dia memalingkan muka Kedua, aku menyapanya di depan tembok yang menghadap dinding kaca. Dia malas berkata. Ketiga, aku bertemu langsung. Dia bingung. Keempat, aku berkata. Dia bisu. Kelima, aku berteriak. Dia tidur Keenam, aku memanggil berulang kali. Dia mati. Tinggal cerita. Tak ada sahutan. Aku datang, dia pulang Aku pulang, dia datang Aku tertawa, dia membisu Aku membisu, dia menangis Aku menangis, dia pergi dalam buaian air mata.

Nama Samaran

Aku sedang mencintai seorang laki-laki. Laki-laki berkemaja lengan panjang yang mengendarai motor butut. Dia sopan. Senyum manis yang merona dilekuk pipinya menggambarkan kesetiaan. Dia setia. Aku jatuh cinta. Aku sedang mencintai seorang laki-laki. Laki-laki yang sederhana, berumur lebih tua dari aku. Aku sedang mencintai seorang laki-laki. Laki-laki yang namanya selalu membenam di hati Laki-laki yang tak memuja dan tak bersandiwara Laki-laki yang terlihat konyol di depan tapi begitu memesona di belakang. Aku sedang mencintai seorang laki-laki. Laki-laki yang apabila berbicara tidak berbusa Tiada bekas alkohol yang menyelimuti lapisan bibir, lidah dan kerongkongan Tiada bekas gincu wanita yang melekat di keningnya dan tiada bekas bedak tebal yang memoles pipinya Laki-laki itu bernama Albetha, seorang pemuda yang tak ingin diketahui nama aslinya. Dongeng Kopi, 19 April 2016 Puisi di atas hanya sebuah keisengan tanpa batas. Lebih baik tumpah, daripada penuh. Karen...

Dosen dan Mahasiswa Bingung

Aku sedikit heran ketika memasuki sebuah ruangan yang lantai-lantainya dipenuhi rak buku. Aku sedikit heran ketika memasuki sebuah ruangan yang lantai-lantainya dihiasi sepatu berhak lengkap dengan sepasang kaos kaki Aku sedikit heran ketika memasuki sebuah ruangan yang lantai-lantainya disapu bersih bak permadani tapi beberapa hal yang aku kaget adalah ruangan itu dipenuhi kaki-kaki palsu yang bahannya dari daging, dialiri cairan merah dan bulu-bulu yang tumbuh, menjalar, dan tersusun rapi. Di sebuah ruangan aku melihat dua orang dosen sedang mengakrabi cerita fiktifnya. Keduanya tak saling sapa, padahal jarak duduk mereka begitu dekat. Tiba-tiba seorang mahasiswa datang menyelinap diantara meja dan lemari yang berdiri berdekatan. Dia menuju pada seorang dosen yang tengah asyik mengotal-atik mainannya. Kemudian mahasiswa itu perlahan memberi senyum. Dilihatnya sedikit tumpukan buku lengkap dengan coretan warna-warni. Dia terkesima seolah bingung. "Permisi, Bu. Saya in...

Kacamata Bundar

Gambar
sebuah kacamata bundar hanya sebuah kacamata bundar yang sengaja kuletakkan pada batang kayu pinus entah berapa diameter lingkarannya atas, bawah, kanan dan kiri. hanya sebuah kacamata bundar polos dan biasa tanpa hiasan, tanpa lukisan Hutan Pinus, 16 April 2016

Obrolan Sastra di Raisin

Gambar
Senja memang layak bagi siapapun, karenanya berbagilah pada orang-orang yang terkasih. Saatnya berkunjung ke sebuah resto di daerah Sagan: Raisin. Sudah lama aku menginginkan untuk menikmati hidangan berbeda jika berkunjung ke sebuah tempat kuliner. Bukan karena aku malu unruk makan hal yang serupa dengan tempo hari. Paling tidak, aku bisa menyegarkan pikiranku dan memanfaatkan waktu mudaku dan berbagi cerita pada orang sekitar. Itulah yang aku lambangkan pada diri ini. Kesibukan pada dunia kuliah bukan penghalang untuk merasakan hal-hal baru. Bukankah masa muda masa yang berapi-api? Bukankah pengalaman adalah guru terbaik? Bukankah peristiwa yang terjadi disekitar adalah cermin diri? Mula-mula seorang teman membuka obrolan: "Bisa temenin aku membedah karya sastra. Aku ingin belajar lebih banyak dengan sastra. Aku ingin menikmati utuh tiap detiknya. Adakah waktu luang yang tersedia? Dia bertanya demikian. Pertanyaan itu tidak langsung kujawab, aku memutar pertanyaan: ...

Lika-liku Mahasiswa Angkatan Dasar

Petikan senandung Opick mengiringi dalam penulisan ini. Entah apa yang aku pikirkan. Mula-mula aku menulis pada ketikan permanen yang telah dibuat oleh professor ternama kawakan internasional. Dia yang membuat ketikan ini bahwa dunia telah berubah menjadi atmosfir tekno. Walau ketika aku berjalan ke desa, masih saja ada anak-anak dan bapak-bapak yang masih menghiasi ruang kerjanya dengan ketikan kayu dan besi yang sisinya disematkan dengan lumuran tinta dan pita berwarna hitam sebagai penyambung laju ketikan. Pagi menjelang siang. Meski ku tahu orang-orang di seberang lautan masih bercengkrama dalam tidur yang panjang. Mengingat sebuah nama yang dikenal setia dan penuh perjuangan. Dia memiliki nama dalam institusi ini. Dia berjuang demi nama Tuhan, demi demokrasi yang berlangsung selaras dengan kehidupan jiwa mahasiswa.  Awal jumpa aku masih sebagai mahasiswa angkatan dasar. Apa yang ia kenakan masih serupa dengan saat ini, meski kala itu masih setia denagn sepatu butut y...

Bingkai Senja untuk Adikku

Gambar
Senja di Pantai Baros, Bantul Adikku yang manis, Adikku yang sendu. Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu. Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai memandang dunia yang terdiri dari waktu, Memandang bagaimana ruang dari waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah dan pasir tetap saja hangat ketika kususupkan kakiku ke dalamnya. Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar. Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu. "Barangkali senja ini bagus untukmu," pikirku. Maka kupotong senja itu, sebelum terlambat kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu. Setelah itu aku berjalan pula...

Pengirim Novel Sepotong Senja untuk Pacarku

Gambar
"Terima kasih, Tuhan," ucapku dalam hati Hari ini aku bahagia. Sebuah kiriman datang menemani tidur panjang, dengan muka kusut aku berlali menghampiri. Tapi aku tak peduli, karena jarang sekali aku mendapatkan sebuah amplop berwarna coklat di pagi hari. Apalagi kokok ayam masih bersemangat menyuarakan kegirangannya. Begitu aku buka, ternyata novel dari seorang sastrawan kaya di Indonesia: Seno Gumira Ajidarma dengan karya terbarunya "Sepotong Senja untuk Pacarku", meski ku tahu bahwa karya ini sudah lama terbit tepatnya di tahun 1991. Namun yang dihadirkan pada tahun ini merupakan perpaduan klasik dan modern. Coba saja kalian datang ke toko buku dan temukan saja judul itu. Novel Sepotong Senja untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma Seno Gumira Ajidarma merupakan sastrawan dan dosen di IKJ Jakarta. Karya-karya telah banyak kita baca baik dalam bentuk softfile atau hardfile, seperti Tukang Pos dalam Amplop, Jawaban Alina, Jezebel, Ikan Paus Merah, Kunang-...

Sepi, Malam Sepi

Di malam yang sunyi dan gelap gulita bak bumi tak ada makhluk. Duduk sendiri menatap langit dengan mata telanjang. Mencari sesuatu yang bermakna. Malam indah telah berlalu, banyak kenangan yang masih melekat dalam diri ini. Melepaskan semua itu tak semudah membalikan kedua telapak tangan. Kadang terlintas suka ataupun duka, meski sempat aku menghilangkan semua itu tetapi ia kembali dan melekat rapat-rapat. Cahaya malam mengejar semua mimpi untuk tidak berhenti. Namun, hari ini aku sendiri merasakan kesepian yang terus hanyut dalam tidur malamku. Gelisah, menggigau dan tertawa geli. Tak heran rasanya, apabila ini kukerjakan setiap malam menyambut tidurku. 6 September 2011 

Bingkisan Kecil

Gambar
sumber: sanayakids.com Ini hanyalah sebuah bingkisan kecil yang kau terima saat ini.  Bingkisan yang tidak akan pernah kau inginkan dalam hidupmu.  Tapi, kini aku malah memberikannya untukmu,  untuk seorang teman,  sahabat yang telah membersamai dalam kisaran tahun. Hari ini kau akan baca dan kau akan lihat sebuah bingkisan kecil ini.  Yang keduanya terbuat dari kaca berbentuk tabung  dan pipihan yang dilapisi dengan karet berwarna ungu muda. Aku menuliskan surat kecil ini  dan memberikan untukmu,  bukan sebagai kesombongan semata yang juga akan sirna.  Tetapi sebagai bingkisan kecil saja. Terimalah bingkisan kecil ini dengan kerendahan hati, Dengan wajah yang ayu nan bijak Dengan tangan yang lembut. Ku tahu akan ada bingkisan-bingkisan lain yang lebih indah,  lebih mewah dan lebih besar .