Lika-liku Mahasiswa Angkatan Dasar
Petikan senandung Opick mengiringi dalam penulisan ini. Entah apa yang aku pikirkan. Mula-mula aku menulis pada ketikan permanen yang telah dibuat oleh professor ternama kawakan internasional. Dia yang membuat ketikan ini bahwa dunia telah berubah menjadi atmosfir tekno. Walau ketika aku berjalan ke desa, masih saja ada anak-anak dan bapak-bapak yang masih menghiasi ruang kerjanya dengan ketikan kayu dan besi yang sisinya disematkan dengan lumuran tinta dan pita berwarna hitam sebagai penyambung laju ketikan.
Pagi menjelang siang. Meski ku tahu orang-orang di seberang
lautan masih bercengkrama dalam tidur yang panjang. Mengingat sebuah nama yang
dikenal setia dan penuh perjuangan. Dia memiliki nama dalam institusi ini. Dia
berjuang demi nama Tuhan, demi demokrasi yang berlangsung selaras dengan
kehidupan jiwa mahasiswa.
Awal jumpa aku masih sebagai mahasiswa angkatan dasar. Apa
yang ia kenakan masih serupa dengan saat ini, meski kala itu masih setia denagn
sepatu butut yang menjadi kenangan kala SMA. Aku memang tidak begitu paham
betul dengan apa yang dia kenakan. Tapi aku mencoba memahami sedikit demi
sedikit. Jika saja benar, aku tak perlu ragu bertegur sapa dengannya.
Dia seorang mahasiswa angkatan tua. Perjalanan karirnya di
mulai ketika pencalonan diri sebagai WK BEM fakultas. Dia memiliki cara sendiri
bagaimana orang-orang mengenalinya. Debutnya juga apik meski ketika sama-sama
masih angkatan dasar, dia didukung oleh seorang partner yang sekarang ini telah
dianggap sebagai kakak angkatnya sendiri.
Ketika aku beranjak keluar pada zona nyaman, dia memegang
tanganku, katanya jangan pergi buru-buru, duduklah bersama kami di sini. Jika
kau keluar dari ini, pastilah kau akan rindu. Kami memang belum sebesar
kumpulan yang lain, tapi kami sanggup berbagi pikiran dan pengalaman.
Dari sanalah aku mulai menggeluti dengan tekun. Dia hadir
sebagai penyemangat, bukan saja karena pakaian yang menutupi tetapi karena
tutur kata.
---Bang Asya---