Daya Tarik Sang Homoseksual

Novel "The Sweet Sins" karya Rangga Wirianto Putra


Kali ini bukan waktunya untuk mengkritisi masalah perempuan seperti yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma dalam cerpen “Matinya Seorang Penari Telanjang”, Ahmad Tohari dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruk”, dan Remy Sylado dalam novel “Bunga Jepun”. Tetapi mengkritisi sebuah novel janggal dalam kehidupan manusia. Bagaimana mungkin, seorang laki-laki yang telah diciptakan untuk saling berpasang-pasangan malah  memilih untuk menjalin hubungan dengan orang yang berjenis kelamin sama. Apakah pertanyaan yang sering kali terlintas dalam pikiran ini sungguh benar bahwa dunia sudah terbalik dengan adanya pengakuan-pengakuan dari beberapa orang yang mengaku dirinya berbeda dan memiliki lingkungan masyarakat sendiri.

Sungguh fakta yang terjadi di lapangan demikian hebatnya, sampai di beberapa situs yang saya temukan bahwa seorang artis sekaligus penyanyi pelantun Livin’ La Vida Loca, Ricky Martin, menyatakan dirinya gay setelah 14 tahun menjalin hubungan dengan Rebecca de Alba yang dikaruniai anak kembar pada tahun 2008 lewat surrogate mother. Kabarnya, kini dia telah menikah dengan kekasih gay-nya, Carlos Gonzalez Abella. Kejadian serupa juga dialami oleh Jupiter Fourtissimo, artis Indonesia, yang mengaku dirinya adalah pengguna narkoba dan seorang gay.

Berangkat dari membaca sebuah novel yang berjudul “The Sweet Sins” karya Rangga Wirianto Putra, seorang alumni Fakultas Psikologi dengan konsentrasi Klinis di salah satu universitas terkemuka di Yogyakarta. Novel perdananya ini adalah bentuk lain dari tugas akhirnya yang juga membahas tentang kehidupan homoseksual yang ditinjau dari segi psikologis. Pria yang mampu berbahasa Inggris, Perancis, dan sedikit Italia ini mengaku bahwa selain menyusun draft buku keduanya, ia juga sibuk sebagai seorang fotografer. Darah fotografer ini ia dapat dari sang kakek yang merupakan seorang fotografer kenamaan.

Selain membaca buku dan menulis, kegemaran yang lainnya adalah mengoleksi lukisan dan mendengarkan serta mempelajari partitur dan libretto opera Eropa. Bahkan, ia bercita-cita ingin menulis sebuah opera dengan libretto lengkap karena obsesinya pada composer kesayangannya, yaitu Mozart. Sehingga wajar, jika setiap pergantian cerita selalu diikuti dengan partitur2 opera Eropa yang semakin menambah kesan romantis. Novel ini juga mendapatkan komentar hangat dari dosen Universitas Indonesia, Aditya P. Setiadi, yang menyatakan bahwa: novel ini juga menambah kekayaan literatur roman Indonesia dengan tema LGBT dan berani mengangkat opera Italia sebagai jiwa dari keseluruhan cerita dengan cukup seksama. Komentar lain juga disampaikan oleh Oka Fahreza, penyiar Radio 89,5 JIZ FM Yogyakarta, yang menyatakan bahwa: Sungguh, ini adalah novel yang jujur memaparkan arti cinta.
 
Kesan ini juga yang menguatkan saya untuk terus mencari satu titik di mana orang dapat meyakinkan dirinya untuk beralih kehidupan menjadi abnormal atau tidak normal. Karena sebagaimana yang kita ketahui bahwa Indonesia merupakan sebuah bangsa dengan penduduk terbanyak keempat dan berpenduduk muslim lebih banyak dibandingkan negara lain yang sudah jelas memiliki dasar islam, sebut saja Saudi Arabia, Mesir, Turki, dan lain sebagainya. Tetapi tidak dipungkiri bahwa identitas gay dan lesbi juga nampak di permukaan walau tidak seheboh negara Belanda yang telah mengesahkan pernikahan sesama jenis. Hal ini juga tidak dipungkiri akibat dari pengaruh globalisasi yang telah dimulai sejak abad 20 secara besar-besaran.

Novel ini dimulai dari permasalahan Reino Regha Prawiro yang hidup tak lengkap, ditinggalkan ayah sejak kecil karena sang ayah telah memiliki istri baru. Ia hanya tinggal bersama Moesye3 dan Mbok Darmi, seorang wanita tua yang telah melewati hidupnya lebih dari setengah abad dan memilih tidak digaji daripada harus meninggalkan kami semenjak peristiwa itu terjadi. 

Setelah lulus SMU, Rei melanjutkan kuliah di Jogja dan berkenalan dengan Nyta dan Maia, lalu menjadi sahabat keduaya. Dan kalau boleh jujur, Nyta-lah yang pertama kali mencekoki Jack-D ke mulut Rei hingga akhirnya jekpot, lalu tepar. Kenal dengan namanya Tante Girang, Nyta juga yang mengenalkan waktu benar-benar butuh uang karena habis buat foya-foya. Semenjak itulah, Rei mulai sering fitness, jogging dan perawatan diri di klinik. Tujuannya hanya satu: agar terlihat mahal dan menjual.

Malam itu, terjadi sebuah percakapan antara Naena dan Rei yang menanyakan hubungannya dengan Maia di sebuah klub malam, Hugo’s CafĂ©, Yogyakarta. Mulai dari asal kampus, jurusan, angkatan dan lain sebagainya. Permulaan yang cukup akrab malam itu menjadi sebuah party yang nikmat dan bersahabat. Hingga timbul ide gila dari Nyta untuk melelang Rei kepada para pengunjung di sana. Ide pun terbalaskan dengan terjualnya Rei pada seorang gadis cantik bernama Novi, meski di tengah jalan mobil Novi yang hendak melaju ke sebuah hotel dihadang oleh seorang laki-laki yang turun dengan menaiki Honda CRV. Perkelahian pun terjadi, hingga Rei babak belur dan Novi meninggalkannya seorang diri di tengah jalan. Tidak lama dari aksi itu, seorang laki-laki membopongnya masuk ke dalam mobil. 

Kejadian malam itu, membuat Rei harus terbaring di apartemen Ardo selama tiga hari Sejak saat itu, ia merasakan hal yang berbeda dalam hidupnya, menemukan teman dan sahabat dalam arti yang sebenarnya. Ardo memberikan segala perhatiannya secara tulus. Ia menyuapi makan, mengambilkan minum, mengompres luka lebam, membopong kalau hendak ke kamar mandi, sampai menemani melewati malam-malam yang sepi dengan hanya ngobrol-ngobrol gak jelas. Sederhana, tapi senang.
Rupanya aksi Ardo berlanjut pada obrolan serius di penginapan daerah Kaliurang. Mereka menyewa kamar untuk menikmati pemandangan Merapi. Tak lama kemudian, suasana berubah menjadi cemas dan histeris. Rei mulai kehilangan kendali. Dia tidak menemukan Ardo di sana, hujan mulai membasahi dan malam terasa hitam. Tiba-tiba di tengah perasaan itu, seseorang memeluknya dari belakang, mencium pundaknya, menggenggam jemari dan berkata, “Aku sayang kamu…” Lalu mencium kening Rei.

Percintaan mereka berjalan dengan mulus, meski teman-teman Rei mendadak bingung dengan tingkahnya yang semakin hari semakin mencurigakan. Meski pada akhirnya mereka pun tahu bahwa Rei telah jadi milik Ardo. 

Pada sebuah malam-malam indah, Ardo mendapatkan panggilan dari orang tuanya untuk pulang ke Surabaya. Terpaksa ia meninggalkan Rei di Jogja, tapi Ardo berjanji akan kembali lagi karena tugas kerja di kantor masih penuh dengan deadline. Di Surabaya, sang ayah sedang sakit parah. Keluarganya tidak dapat membiayai uang berobat. Malam itu hadir ibunda dan ketiga adiknya juga seorang wanita yang memiliki segudang pengalaman dan attitude, dialah Rezta, teman masa kecil Ardo, anaknya Bude Lastri. Ardo membayangkan bumi seakan terbelah menjadi dua. Ia terus membayangkan akan terjadi apa selanjutnya. Akankah dia meninggalkan Rei dan berpindah ke Rezta demi keluarganya atau dia tetap bersama Rei sampai akhir waktu. 

Singkat cerita, Ardo menikahi Rezta sesuai dengan keinginan keluarganya, khusunya dari sang ayah. Meski harus membuat hati Rei hancur. Lama kelamaan Rei mengerti tentang hidup dan mencoba untuk tidak bertingkah parasit. Walaupun hanya nama Ardo-lah, sosok pria sejati yang ada di dalam hatinya. 

Jika kita telusuri alur cerita dalam novel ini, tidak jauh bertolak belakang dengan kehidupan manusia normal. Kehidupan ini memang begitu peliknya, percintaan terkadang membingungkan dan sering membuat orang lupa dengan apa yang telah dimiliki. Bukan rahasia lagi, jika cinta kandas di tengah jalan akibat perilaku orang ketiga yang sengaja atau tidak suka, ketidaksetujuan orang tua dan kehidupan pasangan yang kian hari semakin berubah. Tetapi percintaan seorang pria yang multi talenta seperti Ardo patut di acungi jempol. Ia telah berusaha sekuat mungkin untuk memecahkan masalah yang mendera dirinya menjadi kata perpisahan yang manis. Sedangkan Rei, lelaki yang ditinggalkan oleh Ardo juga mendapatkan banyak pengalaman hidup. Mulai ditinggalkan seorang Daddy4, tercampakkan dengan menjadi gigolo sampai menjadi belahan hidup Ardo. Meski di akhir, ia sadar bahwa cinta sesama pria juga akan tercampakkan dengan hadirnya orang yang lebih spesial.

Oleh karena itu, Endraswara (2003:79) mengungkapkan bahwa sastra sering memperjuangkan umat manusia dalam menentukan masa depannya, berdasarkan imajinasi, perasaan dan intuisi yang disebut sosiologi sastra. Dari hal ini, tampak bahwa perjuangan panjang hidup manusia akan selalu mewarnai teks sastra. Selanjutnya, pengarang merupakan anggota masyarakat, maka masalah-masalah yang terjadi dalam novel ini juga tidak lepas dari pokok sosiologi sastra yang dalam kaitannya dengan masyarakat dan pengarang itu sendiri (Ratna, 2007:288).

Di sisi lain, novel ini juga mengacu pada pendekatan psikologi sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan (Endraswara, 2008:96). Teori psikologi juga diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya. Melalui psikologi, masyarakat akan memahami mengapa kaum homoseksual memiliki ketertarikan seksual yang berbeda dan tidak sesuai norma. 

Homoseksual merupakan salah satu bentuk varian atau kelainan seksual yang dialami pria maupun wanita. Perilaku homoseksual menurut Supratiknya adalah perilaku seksual yang ditujukan pada pasangan sejenis, bila pria dengan pria disebut gay, dan bila terjadi di antara wanita disebut lesbian (1995:94). Menurut Sadarjoen , homoseksualitas dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan yang kuat akan daya tarik erotis seseorang terhadap jenis kelamin yang sama. Istilah homoseksual lazim digunakan bagi pria yang mengalami penyimpangan ini (2005:41).

Sumber Referensi :
Asmoro, Danu Dean. 2013. Potret Identitas Seksualitas dan Keberadaan Kaum Gay di Indonesia
Diunduh dari http://sosbud.kompasiana.com/2013/08/14/potret-identitas-seksualitas-dan-keberadaan-kaum-gay-di-indonesia-dalam-situs-jaringan-komunitas-online-583736.html.
Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra Epistemologi, Model, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widiatama.
Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: MedPress.
Putra, Rangga Wirianto. 2012. The Sweet Sins: Di Balik Pelukan Terhangatnya. Yogyakarta: DIVA Press.
Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Sastra dan Cultural Studies Representasi Fiksi dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sadarjoen, Sawitri Supardi. 2005. Kasus Gangguan Psikoseksual. Bandung: Refika Aditama.


Postingan populer dari blog ini

Visualisasi Kehidupan Perempuan Terdidik dalam Naskah Drama "Sampek Engtay" Karya N. Riantiarno

Pengirim Novel Sepotong Senja untuk Pacarku

6 Cewek Terpopuler Angkatan IV SMANTAMA

10 Cowok Favorit di Kelas IPS Angkatan IV