Visualisasi Kehidupan Perempuan Terdidik dalam Naskah Drama "Sampek Engtay" Karya N. Riantiarno




Pementasan Drama "Sampek Engtay" Kelas PBSI A 2012 FBS UNY


Naskah drama karya N. Riantiarno merupakan sebuah visualisasi dari kehidupan seorang perempuan bernama Engtay yang hidup dalam keluarga bangsawan. Ayahnya bernama Juragan Ciok adalah laki-laki tegas yang mengurus anak semata wayangnya dengan penuh kehati-hatian, meski secara fisik Engtay sudah tumbuh dewasa dan dapat mengurus dirinya sendiri. Seiring dengan pertumbuhannya, Engtay pun mulai berpikir untuk dapat mengenyam bangku sekolah yang sudah ia idamkan sejak kecil. Karena menurutnya, seorang perempuan itu tidak dapat hanya menjadi kuli dapur saja, akan tetapi harus pandai menciptakan kreatifitas dan ide-ide yang matang agar kelak ia tidak merasa bodoh. Akhirnya, Engtay pun berencana untuk bersekolah ke Sekolah Putra Bangsa di Betawi. Ia berpamitan kepada kedua orang tuanya semoga dilancarkan.
Namun apalah daya, Engtay tidak diijinkan secara langsung. Karena menurut ibunya, sekolah hanya untuk kaum lelaki. Dunia wanita, sebatas pagar rumahnya. Jangan pernah berpikir yang demikian, apalagi sampai mengubah kebiasaan perempuan. Nanti bisa buruk akibatnya. Tapi, perjuangan Engtay tidaklah sampai di situ. Di sela-sela obrolan bersama ayah dan ibunya, ia pun membuktikan dengan memotong kain sutera sepanjang tujuh kaki yang kemudian menyuruh ibunya untuk menanam sutera itu di bawah pohon ketapang. Engtay berani membuktikan bahwa niat untuk belajar itu bukan alasan semata bagi dirinya, tetapi kesungguhan hati dan kemantapan diri.
            Lambat laun, kedua orang tuanya pun mengerti dan mengijinkan Engtay untuk bersekolah di Sekolah Putera Bangsa di Betawi. Sang Ayah tidak bisa mengantarkan Engtay sampai di sekolah. Karena ia takut jika encok dan darah tingginya kumat. Tetapi, ayahnya hanya menitipkan surat kepada guru kepala di sana yang ketika itu adalah teman sebaya ayahnya.
           Sebenarnya cerita yang dialami Engtay ini sama persis dengan cerita yang dialami seorang perempuan pribumi di masa itu. Sebut saja seperti R.A. Kartini, Dewi Sartika, Roehana Koeddoes, Rahmah El Junussiah dan seorang pelopor ‘Aisyiyah bernama Siti Walidah. Cerita mereka tak berbeda jauh dengan yang dialami Engtay. Sebagai contoh, Siti Walidah yang dianggap tidak patut jika anak perempuan bangsawan banyak ke luar rumah dan belajar bersama dengan anak laki-laki dan bergaul dengan mereka. Walidah tidak pernah mendapatkan pendidikan formal karena adanya pandangan pada masyarakat Kauman pada saat itu bahwa bersekolah di sekolah pemerintah Kolonial Belanda dianggap haram. Di samping itu, masih ada anggapan bahwa kaum perempuan tidak dibenarkan keluar rumah. Sejak usia 9 tahun ia menjalani pingitan, harus tinggal di rumah sampai saatnya menikah.
            Selanjutnya, seorang perempuan yang menerbitkan buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Ia adalah R.A. Kartini. Seorang anak dari Bupati Jepara yang bernama R.M.A.A. Sosroningrat yang juga bernasib sama. Hanya saja pada masa itu, Kartini masih dapat mendapatkan bangku sekolah dasar sampai berumur 12 tahun dan setelah itu ia harus menjalani tradisi pingitan yang telah menjadi kewajiban oleh putri-putri bangsawan. Akan tetapi, ia pun tetap berusaha untuk dapat mendirikan sekolah perempuan di Jawa yang kala itu tidak ada bagi perempuan pribumi. Dengan bantuan seorang sahabatnya bernama Nyonya J.H. Abendanon, Kartini pun dapat mendirikan Yayasan Kartini dan membuka sekolah untuk anak-anak perempuan dan suami istri Van Deventer yang mendirikan Yayasan Van Deventer yang membuka sekolah lanjutan untuk mendidik perempuan Jawa menjadi guru.
            Padahal jika di lihat dalam konteks ajaran agama, misalnya Islam. Bahwa menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim yang juga telah diterangkan dalam Al Qur’an surah Al-Alaq (96:1-5). Dalam ayat tersebut, kita akan menjumpai kata Iqra’ yang berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun yang tidak. Karena sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orang yang memilikinya dalam kedudukan terhormat dan mulia; ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan akhirat. Dengan demikian, apabila ajaran tersebut dilaksanakan dengan baik, maka kesenjangan gender dalam bidang pendidikan dapat dihindari.
Secara sosial geografis, Indonesia merupakan Secara sosial geografis, Indonesia merupakan negara kepulauan yang membentang dari Sabang sampai Merauke, dengan luas wilayah 3,977 mil antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik dengan 17.508 pulau besar dan kecil. Dengan daerah seluas itu, administratif pemerintahan wilayah Indonesia terbagi menjadi 33 provinsi. Aspek geografis tersebut tentu menyebabkan pencapaian pembangunan yang tidak merata, termasuk dalam pembangunan pendidikan. Seperti dilaporkan oleh Depdiknas (2004:8), berdasarkan data Angka Partisipasi Kasar (APK) Sekolah Dasar per provinsi terdapat ketidakadilan gender dalam pendidikan. Jumlah perempuan yang mendapatkan pendidikan cukup banyak pada provinsi Sumatra Utara, Riau,Lampung, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Sebaliknya, pada provinsi Bengkulu, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara terjadi kesenjangan gender terhadap laki-laki yang cukup besar (Depdiknas, 2004:8). Ketidakadilan gender tersebut juga tampak pada tingkat Sekolah Menengah (SM) dan Perguruan Tinggi (PT). Pada tingkat SM ketidakadilan gender terhadap perempuan terjadi di provinsi Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, DI Yogyakarta, dan hampir semua provinsi di Sulawesi (Depdiknas, 2004:8). Pada tingkat PT ketidakadilan gender dalam pendidikan, yang ditandai dengan rendahnya partisipasi perempuan terdapat di provinsi Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Banten, Sulawesi Tenggara, dan Papua (Depdiknas, 2004:9).


Sumber :
Wiyatmi. 2013. Menjadi Perempuan Terdidik: Novel Indonesia dan Feminisme. Yogyakarta: UNY Press.


Postingan populer dari blog ini

Daya Tarik Sang Homoseksual

Pengirim Novel Sepotong Senja untuk Pacarku

6 Cewek Terpopuler Angkatan IV SMANTAMA

10 Cowok Favorit di Kelas IPS Angkatan IV