Viktimologi Pelacur Lesbian dalam Novel Maman Suherman


Novel Re: karya Maman Suherman

Tanggal 27 November 2015 kemarin saya berkunjung ke sebuah toko buku di bilangan Kotabaru, Yogyakarta. Awalnya saya hendak mencari buku pembelajaran bahasa Indonesia untuk SMA kelas XI sebagai materi skripsi, namun buku itu sudah tidak ada dalam penyimpanan buku. Akhirnya saya membeli novel berjudul Re:. Sekilas novel ini hampir sama seperti novel-novel lainnya. Namun, pada bagian cover depan kanan bawah tertulis peringatan “Khusus Dewasa 18+”. Rupanya, novel ini mengulik tentang kisah pelacur lesbian yang belum diketahui oleh sebagian besar masyarakat.

Berlanjut pada persoalan karya, novel terbitan Kepustakaan Propuler Gramedia ini termasuk dalam kategori bergenre LGBT (Lesbian, Gay, Bisex, Transgender). Alumni Kriminologi UI yang juga kreator acara Indonesia Lawak Klub Trans TV inilah yang mengemas novel setebal 160 halaman dari skripsi 400 halaman. Novel ini dibuat berdasarkan kejadian yang ada (kisah nyata). Maman Suherman dengan sengaja masuk dalam dunia malam kepelacuran.

Bukti novel ini bergenre LGBT terlihat pada setting tempat yang digunakan penulis seperti Lapangan Banteng (Jakarta Pusat), Taman Lawang dan lain sebagainya. Misalnya, di lapangan Banteng terdapat pria yang mejeng dan kerap disebut ‘balola’ singkatan dari ‘barisan lonte lanang’. Kemudian (hal. 113), adanya karakter pelacur lines, hetero, atau juga lekong (anak laki-laki berpenampilan kemayu seperti perempuan) yang mencari om-om senang penyuka sesama.

Novel ini dibuat memiliki maksud yang jelas yakni membuka pemikiran orang-orang yang memandang bahwa pelacur adalah sampah yang dicap kotor, padahal pada permasalahannya bukan apa pekerjaan mereka, tetapi mengapa mereka jadi pelacur atau siapa otak kriminalitas dalam kepelacuran ini. Pelacur juga memiliki kehidupan yang sama seperti orang-orang pada umumnya, Mereka memiliki keluarga, anak, orang tua, dan cita-cita.

Hampir setengah jam menanti, kami berdua serempak melihat satu motor bebek merah berhenti, tepat di depan pintu pagar sekolah. Semula yang tampak hanya dua orang dewasa. Lelaki di depan, perempuan di belakang. Ternyata di tengah mereka terselip anak kecil. Buah hati Re:. Nadi kehidupan Re:.
            “Itu Melur,” ujarnya setengah berteriak. (Hal. 137)

Melur adalah anak Re:, hasil dari perbuatan di luar nikah bersama dua orang lelaki, yakni teman dan gurunya. Melur lahir tak berbapak, sama seperti Re: yang ketika lahir tak memiliki ayah. Melur dititipkan pada Bu Marlina dan Pak Sutadi yang merupakan tetangga Shinta, sahabat Re: di pelacuran Mami Lani. Shinta telah meninggal beberapa minggu yang lalu, kabarnya dia ditabrak oleh mobil di depan lobi hotel.

Di bagian kepala korban tampak ceceran serpihan putih bersaput darah. Sebagian rambutnya yang panjang tercabut dari batok kepala dan menempel di jalan, mungkin saking kerasnya hantaman mobil. Wajah dan sekujur tubuh perempuan berkulit bening itu terkelupas hingga ke tulang, tergerus lapisan batu dan aspal yang setajam parutan kelapa. (Hal 6-7)

Pemberitaan kasus pelacur meninggal tidak saja terjadi sekali ini, tetapi lebih dari itu. Sebenarnya, para pelacur yang meninggal itu ada sebabnya, biasanya disengaja oleh bos (germo) mereka yang tidak ingin jika anak emas yang menghasilkan jutaan rupiah atau milyaran itu pergi berpindah ke pelacuran lain.

Di pertengahan novel ini, Maman Suherman pernah diteror oleh Mami Lani, jikalau Maman berani mengelabui Mami Lani dia juga akan dibunuh. Artinya, berita pelacur meninggal semata-mata bukan karena ulah nakal dari pelacur sendiri, melainkan ulah dari bos mereka yang kerap kali mengintimidasi untuk tidak pergi begitu saja. Dalam talkshow Maman yang diadakan di TB Gramedia Depok, sebanyak 15 orang pelacur, 13 orang diantaranya harus meregang nyawa di depan mata. Perut mereka dicutter oleh germo-germonya (sumber: Kompasiana Haryanti 2015). Kehidupan mereka di pondok (kos-kosan) juga sudah dijamin, mulai dari makan, tempat tinggal, dan kesehatan.

            Tingkah pelacur lesbian yang digambarkan Re: pada novel ini terbaca pada hal. 106, bahwa
...Re: pernah threesome bersama perempuan. Tugasnya adalah mandi kucingin dua-duanya. Ngejilatin seluruh badannya termasuk putingnya. Lalu main pakai dildo atau pakai tangan.

Selain itu, Re: juga pernah diundang oleh perempuan yang merupakan pelanggannya. Saat itu dia harus bersama Herman, nama samaran dari Maman, karena permintaan Re:. Namun, ketika bermain di ranjang, Herman tidak diperbolehkan ikut, ia harus menunggu di ruang tamu sambil menonton TV.  Bahkan lanjutnya, tidak cuma threesome. Di satu kamar Re: pernah kerap diundang untuk bermain empat pasang sekaligus. Setelah itu, mereka tukar-tukaran pasangan satu sama lain.

Benjamin Mendelsohn, sang penulis Viktimologi, menyoroti secara mendalam hubungan antara korban dan pelaku kriminal. Ia menciptakan istilah ‘viktimal’ sebagai lawan dari ‘kriminal’, ‘viktimitas’ sebagai lawan dari ‘kriminalitas’. Mendelsohn membahas dan memberi contoh-contoh bagaimana seseorang kerap tak sadar bersikap dan berperilaku yang menyebabkan dirinya menjadi korban kejahatan.

Dalam novel ini dapat digaris bawahi bahwa Re: merupakan korban kejahatan di mana awalnya dia diajak oleh Mami Lani untuk menginap di rumahnya. Kala itu, Mami Lani melihat Re: tidur di depan lobi hotel di daerah Jakarta dengan perut membuncit (hamil). Re: berpikir bahwa Mami Lani orang baik, ternyata ada maksud dibalik kebaikan yang dilakukan Mami Lani. Jadi, pekerjaan yang dilakukan oleh Re: lebih kepada pelunasan hutang-hutang kepada Mami Lani. Jika tidak begitu, Re: akan dibunuh, seperti Shinta dan teman-teman lainnya.

            Pada November 1989, Re memberikan tugas khusus kepada Herman untuk mengirim berbagai macam mainan kepada Melur, anak semata wayangnya. Tak cuma itu, dia juga menitipkan long dress untuk Bu Marlina dan segepok uang yang tidak sedikit sebesar Rp5,25 juta.
 “Bilang sama Bu Marlina, jangan ditolak. Tolong ditabung untuk bantu-bantu biaya sekolah Melur.”
“Kamu kuras semua tabunganmu? Lalu untuk kamu?”
“Aku hidup untuk Melur. Nasibnya harus lebih baik dari nenek dan ibunya...” Re: berkata lirih.
“Kamu kan juga butuh uang?” tanyaku.
“Man, aku sudah bilang kan, aku itu bekerja untuk Melur. Sebentar lagi aku gak butuh duit... Aku sudah tua...”(Hal. 143).

Percakapan itu adalah percakapan terakhir Herman dengan Re:. Dalam headline sebuah koran sore, Herman mendapati judul “Seorang Pelacur Tewas Tersalib di Tiang Listrik Jalan Blora. Tubuhnya Penuh Sayatan!”
           
“Menurut tukang ojek yang biasa mangkal di depan kafe dangdut itu, mayat ditemukan sekitar 02.30-an, tak lama setelah kafe itu tutup.”
“Menurut tukang ojek yang bernama Rohim itu, perempuan yang tewas mengenaskan itu bernama Rere, dan dikenal sebagai pelacur.” (Hal. 148)

Sikap yang dilakukan Re: termasuk terpuji meski orang-orang mengecapnya sebagai pelacur lesbian. Re: tidak pernah memaki takdirnya, Re: tetap bertanggungjawab terhadap bayi yang dikandungnya, Re: tipe orang yang tidak suka mengeluh, dan Re: sosok perempuan yang selalu memberikan kebahagiaan pada anaknya. Hal itu sejalan dengan pendapat Endraswara (2003: 79) bahwa sastra sering memperjuangkan umat manusia dalam menentukan masa depannya, berdasarkan imajinasi, perasaan dan intuisi.

Novel Re: bukan novel yang mengumbar undercover adegan seks bebas atau kegiatan melacur, tetapi kita sebagai pembaca dihadapkan pada perjuangan Re:. Tidak ada yang rela ikhlas menjadi pelacur secara lahir-batin melainkan pelacur berharap bagaimana caranya berhenti menjadi pelacur.

Postingan populer dari blog ini

Daya Tarik Sang Homoseksual

Visualisasi Kehidupan Perempuan Terdidik dalam Naskah Drama "Sampek Engtay" Karya N. Riantiarno

Pengirim Novel Sepotong Senja untuk Pacarku

6 Cewek Terpopuler Angkatan IV SMANTAMA

10 Cowok Favorit di Kelas IPS Angkatan IV