Gadis Berhati Burung

Sudah dua tahun yang lalu, ibu pergi meninggalkan aku dan ketiga adikku yang masih kecil. Bapak juga bilang kepada kami bahwa ibu akan kembali setelah ia memiliki banyak uang untuk mencukupi kebutuhan keluarga kecil ini. Tetapi jawabannya pun tidak pernah ada.
Setiap malam, adikku yang nomor tiga selalu memanggil nama ibu di setiap tidurnya. Maklum saja, ketika ibu pergi adikku masih berumur tiga tahun. Dia belum mengerti tentang hal itu. Walau ia sempat menangis melihat ibu pergi tanpa pamit kepada kami.
*
Perkenalkan namaku Fitri. Saat ini aku duduk di bangku SMP kelas VII. Aku memiliki tiga orang adik bernama Feri, Fika dan Fila. Umurku genap empat belas tahun. Jarak umurku dengan adik-adikku terpaut sangat jauh yakni tiga tahun. Di rumah, kami hanya tinggal bersama ayah dan seekor kucing bernama Feti. Sebenarnya, kucing ini sengaja aku pelihara untuk menemani adikku Fila.
Dua hari yang lalu, ayah mengalami kecelakaan tunggal. Untunglah, sekarang kondisinya sudah berangsur membaik, walaupun untuk bangun ia masih perlu dibantu. Ayah mengalami kecelakaan tunggal saat mencari lowongan kerja. Dia mengendarai sepeda butut buatan China.
Semalaman aku mendadak bingung dengan kondisi yang menimpa keluarga kami. Aku harus bolak-balik meninggalkan adik di rumah menuju puskesmas terdekat untuk mengantarkan ayah berobat. Meskipun uang yang kami bawa hanya seadanya. Uang itu didapat dari hasil tabungan sejak aku berumur lima tahun.
*
“Kak Fitri, lapar. Sejak tadi pagi, belum ada sebutir nasi pun yang masuk ke dalam perut ini. Jika tidak, aku akan tidur lagi sampai kakak membangunkan aku untuk makan.”
“Sebentar ya, Fer. Sabar,” jawabku menenangkan Feri. Keadaan ini berlanjut hingga keesokan paginya. Biasanya dalam seminggu, kami hanya dapat makan tiga kali. Itu pun hanya dua buah singkong rebus atau satu bonggol lontong pemberian tetangga. Tak jarang, aku dan ayah mengalah untuk mereka bertiga. Ayah tidak ingin makan sebelum anak-anaknya kenyang.
Siang ini, aku bergegas mencari singkong di kebun Mang Ali. Kebun yang terhampar luas. Di sana terdapat berbagai jenis makanan, mulai dari sayuran, buah, dan umbi-umbian. Mang Ali adalah juragan kaya di kampunku. Tak heran banyak pengusaha luar kota yang singgah kemari, baik sekadar untuk melihat-lihat atau pun membeli beberapa kilogram sayur dan buah yang ditanam.
“Selamat siang, Mang.”
“Siang, nak Fitri. Bagaimana keadaan ayahmu? Apakah dia sudah pulih benar?” tanya Mang Ali.
“Belum, Mang. Ayah masih terbaring lemas di kasur. Ia belum dapat berjalan dengan leluasa.”
“Lalu, bagamaimana dengan ibumu. Apakah janjinya benar akan pulang ke rumah dengan segera?” Mang Ali bertanya lagi.
“Entahlah, Mang.” Aku hanya tertunduk lesu mendengar pertanyaan itu. Butir-butir air mata ini mulai jatuh dan membasahi pipi.
“Sudah-sudah jangan menangis”, kata Mang Ali kepadaku sambil mengusap air mata yang membasahi pipiku.
“Mang, aku boleh minta beberapa singkong dan sayuran untuk ku masak hari ini. Ketiga adikku belum makan. Aku merasa bersalah kepadanya, melantarkan begitu saja tanpa asupan gizi yang baik.
“Boleh, ambil saja. Tapi ingat, jangan merusak tanaman lain di sekitarnya”, pinta Mang Ali.
Akhirnya siang itu, aku mengambil beberapa singkong dan sayuran. Semuanya itu aku masukan ke dalam kantong plastik berwarna hitam. Setibanya di rumah, aku langsung merebus beberapa singkong dan sayuran.
“Sekarang, waktunya makan.” Aku segera membangunkan ketiga adikku yang masih terlelap dalam tidurnya.
Sungguh di luar dugaan, makanan itu habis tak berbekas. Feri merasa senang dan mencium keningku. Ayah tampak bangga dengan hasil ini.
*
Guyuran air hujan sore ini membasahi ruangan tidur kami. Feti si kucing manis kesayangan Fila merasa terganggu dengan hadirnya air yang menggenangi tempatnya. Rumah yang terbuat dari papan ini belum mampu melindungi orang-orang di dalamnya termasuk si manis Feti.
Di saat inilah kami hanya dapat pasrah dan pasrah. Kami tidak memiliki keinginan untuk menginap di rumah warga, karena jarak rumah kami yang cukup jauh. Rumah kami berada di atas bukit, sedangkan rumah warga dibawahnya. Begitu juga dengan musim hujan. Selimut saja kami tak punya. Untungnya, ketiga adikku sudah cukup kebal menerima kenyataan ini.
*
“Ayaaahhh ... Ayaaaahhh ... Kapan ibu pulang. Fila lindu tama ibu.”
“Fila, ayah janji. Ibu pasti pulang membawa boneka untuk Fila. Sekarang ibu masih cari uang.”
Seperti itulah jawaban ayah kepada Fila jika ditanya tentang ibu. Gadis mungil yang lucu dan  cedal itu sangat rindu bertemu ibu. Aku dan kedua adikku hanya menatap dengan perih. Berharap ibu datang dalam setiap mimpi kami.
“Uhhuuukkk...uhukkkk...uhhuuukkk...”
Setelah melihat Fila yang lucu itu. Mata kami dihadapkan pada kenyataan yang pahit. Segumpal darah keluar dari mulut ayah. Kedua adikku menangis. Aku mulai mendekati ayah dan mengambil obat apa saja yang dapat diminum untuk kesembuhan ayah. Feri tak mau jika ayah pergi meninggalkan begitu saja. Kemudian ia berlari menemui Pak Roso, seorang mantri handal di desa kami.
Satu jam kemudian, Feri dan Pak Roso datang membawa peralatan medisnya. Pak Roso memeriksa detak jantung ayah untuk mengetahui apakah dia mengalami tekanan darah atau tidak. Setelah di periksa, Pak Roso memberikan dua jenis obat untuk diminum ayah. Tampaknya Pak Roso terburu-buru, ia juga lupa memberikan hasil dari keadaan ayah.
*
Malam ini, aku melihat sekelompok bintang menyatu dalam sebuah lingkaran dari celah dapur yang atapnya sedikit terbuka. Aku penasaran dengan hal itu. Bintang yang tampak kecil itu dapat bersatu dengan membentuk lingkaran. Akan tetapi, berbeda dengan keluarga kami. Seorang ibu meninggalkan kami selama dua tahun tanpa ada kabar sedikit pun. Anak-anaknya menangis, rindu akan belaian dan pelukannya. Dua tahun adalah waktu yang cukup lama. Aku bisa menghabiskan dengan berbagai macam cerita dan pengalaman. Seandainya keluarga kami adalah golongan orang kaya, tentu tidak akan semacam ini.
Sekarang aku sudah putus sekolah. Cita-citaku setinggi langit itu kandas di tengah jalan dengan cerita pahit yang menyelimuti keluarga kami. Tempat tinggal yang jauh dari keramaian menyulitkan kami untuk berinteraksi. Tetapi, aku masih dapat bersyukur. Hari ini aku masih memiliki tiga orang adik yang lucu-lucu dan seorang ayah yang sabar. Jika saja, hari kemarin mereka pergi mungkin aku akan hidup sebatang kara ditemani suara jangkring yang bersahutan tiap malam dan cahaya lilin yang menerangi pada satu sisi saja.
Lagi-lagi air mataku tumpah deras melalui lubang mata yang melebar. Dengan kondisi ini, aku tak ingin tinggal diam saja. Aku terus memohon doa kepada sang Illahi berharap ibu akan selalu dalam lindungannya.
Lima menit kemudian, keadaan berubah. Bintang yang kerlap-kerlip tadi meninggalkan begitu saja. Tubuh lilin akan segera habis termakan oleh cahayanya sendiri. Tiba-tiba terdengar suara gagak di dahan pohon mahoni. Suaranya keras sekali, sehingga membangunkan Fika dan Fila dari tidurnya. Mereka menangis.
Keesokan hari, aku menerima sebuah surat dari kepala dusun. Di dalamnya berisi permohonan maaf sekaligus pemberian beasiswa kepada aku dan ketiga adikku untuk bersekolah mengingat kisah dari perjuanganku yang cukup memilukan. Surat itu dikirim dari pemerintah daerah kemudian diterima oleh bapak kepala dusun sebelum diberikan kepada ku. Perasaan haru sekaligus bangga menyelimuti keluarga kami. Aku pun berpesan kepada semua orang yang belum mendapatkan kebahagian ini bahwa, “Hidup akan berarti jika kita mau membagikan sesuatu untuk orang lain dan tidak hanya fokus untuk menyenangkan diri kita sendiri.”

Postingan populer dari blog ini

Daya Tarik Sang Homoseksual

Visualisasi Kehidupan Perempuan Terdidik dalam Naskah Drama "Sampek Engtay" Karya N. Riantiarno

Pengirim Novel Sepotong Senja untuk Pacarku

6 Cewek Terpopuler Angkatan IV SMANTAMA

10 Cowok Favorit di Kelas IPS Angkatan IV