Sarasehan Malam Spektakuler
Alhamdulillah. Malam ini saya dipertemukan dalam kegiatan
yang menjunjung tema “spektakuler”. Apa itu spektakuler? Menurut kamus
Indonesia, spektakuler adalah menarik perhatian, mencolok mata. Kegiatan ini
diperuntukkan bagi mahasiswa Alumni FOSMA, Alumni ESQ, para ATS dan lain
sebagainya. Lalu bagaimana jika ada mahasiswa lain yang ingin bergabung atau
sekedar meramaikan kegiatan ini? Jawabannya adalah boleh-boleh saja, panitia
merasa senang karena kegiatannya meriah, begitu pula dengan hadirin yang sudah
ikut jauh-jauh hari dengan mendaftarkan dirinya.
Baiklah, kegiatan ini dimulai dengan pembukaan dari Chamid,
seorang mahasiswa angkatan 2014 yang sekaligus merangkap sebagai ketua FOSMA
UNY 2016. Setelah itu, pembawa acara langsung mengundang dua pemateri yang tak
kalah meriahnya. Dialah Sigit Purnomo, S.Pd (eks Ketua Fosma 2012) dan Rony
Irawan, S.Pd (eks ketua Fosma 2009). Mereka berdua seperti lakon drama
pementasan yang kerap kali disanjung oleh sang dalang. Mengapa demikian? Karena
peran mereka begitu bagus dan menjiwai karakter masing-masing.
Hadirin yang hadir dari berbagai angkatan. Meski tidak
semeriah konser festival Sheila On Seven yang dihelat beberapa minggu yang
lalu. Akan tetapi, cita rasa dari keutuhan warna pelangi itu selalu ada. Saya
dan teman-teman lainnya sangat senang dan sekaligus bangga dihadapkan pada
sepiring gorengan dan segelas susu hangat. Memang harganya tak seberapa hanya Rp500.
Nominal terkecil dari sebuah harga makanan.
Kedua aktor dalam pementasan tadi juga mempresentasikan
sedikit kegiatan mereka selama beberapa tahun belakangan itu yang kini sudah
mulai tergantikan dengan kegiatan baru dan lebih fresh. Meski tampilan
presentasi mereka agak sedikit buyar karena masalah teknis, tapi hadirin tetap
merasa senang seperti halnya kelucuan Punokawan (Bagong, Petruk, Gareng dan Ki
Semar) yang melancangkan aksinya di panggung. Hal inilah yang menjadikan hadirin
tertawa lepas tanpa ada pengendali.
Beberapa menit kemudian, seorang pemuda yang juga eks Ketua
Fosma 2014 pun datang mengenakan jaket abu-abu lengkap dengan pakaian dalam dan
celana panjang berwarna hitam. Dialah Amanu Najib yang saat ini tengah melakoni
hal baru di dunia kuliner. Jika teman-teman tahu Miyada Deresan, dialah salah
satu ownernya. Duh, kerennya.
Nah, kembali pada kegiatan spektakuler malam ini. Ketika
pemateri telah selesai mempresentasikan segala materinya. Barulah tim
pembentukan yang digawangi oleh Chamid, beraksi. Lampu dimatikan. Semua mata
tertuju pada layar berwarna putih.
“Saksikanlah beramai-ramai. Video akan segera dimulai.
Marilah kita dengar, lihat dan bila perlu pahami.” Begitulah instruksi pembawa
acara.
Video berlangsung selama kurang lebih 8 menit. Namun,
sesuatu terjadi dibelakang hadirin. Orang-orang sedang menghidupkan lilin.
Apakah akan terjadi skenario panjang dalam pementasan ini atau hanya promosi
dalam bingkaian sponsor? Hadirin terus menantikan hal-hal yang akan terjadi.
Tiba-tiba, seorang wanita berhijab memainkan gending jawa, bukan memukul tetapi
bernyanyi layaknya sinden pada lakon wayang. Hadirin tampak heran dan merasa
merinding. Tidak ingin juga berjumpa dengan hal yang tidak disangka terjadi
melewati bulu-bulu halus yang beraroma itu.
| Pembacaan Puisi dalam acara Malam Spektakuler |
| Menghayati puisi |
Selanjutnya, orang-orang berjalan
menuju panggung dengan membawa lilin yang ada pada masing-masing genggaman
tangan. Mereka bernyanyi, hadirin mendengar. Mereka berpuisi, hadirin menghati,
mengimani serta berdoa lirih-lirih. Jika benar apa yang dikatakan, hadirin
mengamini.
Malam ini, hadirin ibarat padang ilalang yang disapu angin malam. Dingin. Sepi. Akar-akar seakan kembali menyusup pada tanah. Adapun tikus dan kawanan jangkring lebih baik kembali ke sarang. Mereka menyerah sekaligus takut. Ketakutan mereka bukan pada angin yang kadang datang begitu deras hingga menyapu pepohonan dan rumah-rumah warga. Tetapi mereka takut pada Dzat yang menghidup dan mematikan mereka. Karena sesungguhnya semua yang ada di bumi akan kembali padaNya. Oleh karenanya hadirin seakan berdosa belum dapat berbuat yang terbaik untuk bangsa ini. Bangsa yang terkenal dengan sumber daya alam dan ramah tamah penduduknya. Bukan saja orang sendiri yang mengakui, tetapi bangsa lain.
| Lelaki pembawa lilin |
| Wanita berhijab pembawa lilin |
Kegiatan malam ini ditutup tepat jam 21.00. Ya, sesuai
kesepakatan bersama bahwa wanita dilarang keluar malam-malam apalagi pulang
tengah malam. Karena takut ada fitnah yang terjadi dan tidak diinginkan.
Sebelum pulang, saya berfoto-foto dengan beberapa teman seperjalanan, teman
kepulauan, teman pertemuan dan teman batas waktu. Semoga malam ini akan ada
sejarah panjang yang dibasahi dengan kenangan indah layaknya hujan yang terus
menerus mengguyur kota Jogja. Pastilah bau tanah sehabis hujan akan berbeda
dengan bau tanah sebelum hujan.
| Teman Kepulauan Sumatera |
| Teman Sejurusan PBSI 2012 |
| Teman Jumpa dan Akhir |
| Teman Pulang Makan |
Student Center. Lantai 3 Sayap Timur. Universitas Negeri Yogyakarta