Patung Lilin Bima

Masih teringat jelas bagaimana bus yang membawa kami menghantam tembok pembatas jalan saat menuju ke desa wisata Randu Alas. Kala itu, semua orang sedang tertidur lelap karena kondisi cuaca yang dingin. Sejak awal, aku terus dihampiri rasa khawatir, terlebih lagi ketika malam sebelum keberangkatan. Aku bermimpi didatangi oleh seorang kakek tua yang melarang cucunya untuk berlibur. Padahal sang cucu amat sangat menginginkan hal itu. Menurut sang kakek, wisata itu cukup berbahaya. Namun, sang cucu membantah. Ia merasa bahwa wisata itu sangat indah.
*
Sudah jauh-jauh hari, sekolahku mencanangkan untuk berlibur ke desa wisata Randu Alas. Jarak yang ditempuh memang terbilang cukup jauh sekitar 200 km. Oleh karenanya, sekolah sengaja menyewa bus pariwisata agar semua siswa di kelas delapan dan guru dapat ikut berlibur menikmati keindahan desa wisata Randu Alas. Tujuan awal wisata ini yakni berkunjung ke wisata pemandian air panas, akan tetapi karena cuaca kurang mendukung akhirnya diganti berlibur ke desa wisata Randu Alas. Menurut Bu Baeti, selaku wali kelas kami, desa wisata Randu Alas cukup menjajikan bagi para wisatawan yang melancong ke sana. Selain dimanjakan dengan kebudayaan dan tradisi masyarakat, wisatawan dapat menikmati keindahan taman bunga dan buah dibandingkan dengan wisata pemandian air panas. 

Tepatnya pada hari Kamis kami berangkat. Seluruh siswa kelas delapan ikut berwisata. Mereka berangkat menaiki Bus Pariwisata Kuda Kencana. Satu bus berisi 40 orang termasuk bapak dan ibu guru. Mereka tampak menikmati liburan pertama ini. Tidak ada rasa kesal atau kecewa dari raut mereka masing-masing. Namun, belum juga setengah perjalanan. Tiba-tiba bus yang kami tumpangi mendadak oleng ke kanan. Semua orang di dalam bus itu gaduh dan teriak. Pak Wali menyarankan sopir bus untuk pelan-pelan saja. Selain jalan yang bergelombang juga banyaknya tanjakan yang dilalui. Sopir pun mengiyakan. 

Hari pun beranjak malam. Suara bising kawanan jangkrik yang berada di luar menambah keramaian liburan kali ini. Sopir menyandarkan busnya ke sebuah peristirahatan pinggir jalan. Semua orang pun keluar dari bus, masing-masing dari mereka sibuk dengan keinginannya. Beberapa jam kemudian, perjalanan dilanjutkan kembali.  Pada jarak 2 km, bus yang kami tumpangi oleng lagi. Tiba-tiba sebuah motor mrnyalip dengan kecepatan tinggi, sopir bus yang tengah asyik dengan hirupan asap rokoknya, mendadak kaget dan membanting setir ke kiri hingga menabrak pembatas jalan dan masuk ke jurang. Kaca mobil depan pecah begitu juga dengan kaca samping dekat penumpang. Semua orang berhamburan, sungai darah pun menyembul seraya meminta pertolongan. Sejam kemudian mobil polisi dan ambulan datang menyelamatkan korban kecelakaan ini. 

Sesampainya di rumah sakit aku melihat Bima, teman kelasku yang juga duduk di belakangku dekat Bu Baeti. Aku melihat sekujur tubuhnya yang tidak mengalami luka serius seperti yang dialami oleh teman-teman lainnya. Akan tetapi, ia terus merintih kesakitan. Rasa nyeri dibagian kedua matanya yang menjadikan dirinya terus berteriak. Kata dokter, kedua matanya awas dari penglihatan alias buta permanen. Sementara itu, tidak hanya Fera, seorang guru bahasa Inggris, sebut saja Pak Kormo juga mengalami hal yang serius. Kaki kanannya patah akibat terpelanting ke dasar jurang menembus kaca depan bus. Sedangkan siswa lainnya hanya luka ringan saja. 

Sejak saat itulah Bima lebih banyak menghambiskan waktunya untuk menyendiri di sudut kelas. Bahkan, teman-teman di kelasnya enggan untuk berteman karena melihat fisiknya yang cacat. Padahal sebelum itu, Bima termasuk anak yang periang. Dia memiliki banyak teman dan seorang sahabat bernama Sukma. Namun, kini Sukma berbeda, ia telah berubah sejak Bima buta. Menurutnya, Bima adalah sosok yang menyusahkan orang lain.
*
Dua minggu lagi, Bima akan berulang tahun. Akan tetapi, dia bingung akan mengundang siapa. Akhirnya, sang ibunda mengusulkan untuk mengundang anak yatim piatu. Ayah Bima akan membuatkan pesta semeriah mungkin. Selain itu, ayahnya juga akan mengundang teman lamanya, seorang seniman berbakat bernama Sekti Pringgadana. Di masa kuliahnya, Sekti memang handal dalam membuat berbagai macam kerajinan, seperti ukiran, topeng, keramik dan lain sebagainya. Untuk itulah, Sekti diundang agar membuatkan ikon Bima berbahan lilin. Sekaligus sebagai hadiah ulang tahunnya.

Hari pun berlalu cepat seperti halnya telur ayam yang baru saja menentas, kini ia mulai menjadi jago yang telah pandai berlari kemana pun ia sukai. Termasuk ke padang rumput tempat anak desa bermain bola. Kuncup-kuncup bunga pun mulai merekah. Layaknya payung yang dipakai untuk berteduh dari hujan dan panas. 
Orang-orang mulai berdatangan menuju rumah Bima. Iringan doa pun dipanjatkan. Riuh suara mengembara hingga ke dalam rumah. Sepertinya, hari ini adalah hari penantian bagi Bima untuk menyatakan segala kediamannya. Jika tahun lalu ia dapat mengundang semua teman kelasnya, tetapi tahun ini tidak demikian.

Acara pun di mulai. Ayah Bima membuka acara ulang tahun anaknya sekaligus memberi sambutan kepada semua tamu yang diundangnya termasuk panti asuhan yatim piatu dan Om Sekti. Kata demi kata diluncurkan kehadapan tamu yang hadir. Rintihan perih air mata seakan ingin keluar diantara sela-sela ucapan. 

“Saya ucapkan beribu terima kasih kepada Bapak, Ibu, adik-adik sekalian yang telah meluangkan waktunya untuk memenuhi undangan ini”, ucap ayah Bima.

“Memang, hari ini berbeda jauh dengan setahun yang lalu. Di mana kala itu Bima masih bisa menjamu teman-temannya untuk datang ke rumah. Akan tetapi, hari ini, saudara-saudara sekalian lah yang menggantingkan mereka. Syukur kepada Allah yang masih memberikan kesempatan bagi keluarga kami untuk menjamu saudara-saudara sekalian. Semoga Bima menjadi anak yang sholeh dan segala penyakitnya diangkat oleh Allah swt.”

“Amiin”, jawab tamu undangan.

Setelah sambutan dari ayah Bima, acara pun dilanjutkan dengan potong kue dan buka hadiah dari Sekti. Namun sebelum itu, Bima meminta kepada para tamu undangan untuk mendoakannya agar segera dilepaskan dari segala penyakit yang membelenggu dirinya termasuk permintaan agar teman-temanya kembali menemaninya.

Lagu “Ulang Tahun” dinyanyikan secara bersama diiringi musik rebana dari tim panti asuhan yatim piatu. Kemudian, api-api kecil yang menempel di atas lilin ditiup perlahan. Iringan doa dipanjatkan agar Bima tetap ceria dan selalu dirindukan semua orang.
Lekas dari itu, Sekti beraksi. Dia membawa sebuah kotak besar yang ditutupi dengan jubah hitam. Orang-orang yang melihat akan mengira bahwa ia sedang bermain sulap. Padahal bukan itu, Sekti sengaja membawa kotak berjubah hitam sebagai hadiah untuk Bima. Lalu ayah Bima menggandeng ke tengah-tengah dekat dengan kotak hitam itu. Tamu undangan merasa penasaran dengan isi kotak itu. 

Kemudian Sekti menyuruh tamu yang hadir untuk memberikan aba-aba ketika kotak akan dibuka.

“Baiklah, saudara-saudaraku sekalian. Untuk menyemangati Bima pada ulang tahunnya yang keempat belas. Mari kita menghitung bersama untuk membuka kotak ini”, kata Sekti dengan semangat.

Bima semakin deg-degan dengan isi di dalam kotak itu. Ia merasa bahagia sekaligus cemas. Karena ia juga tak tahu apakah itu benar kotak hitam yang berisi atau hanya omong kosong belaka agar acara terlihat meriah.

Sekti memberi aba-aba kepada tamu undangan yang hadir untuk menghitung mundur.

“Tigaa ... Dua ... Satuuu ...”

Tamu undangan pun bersorak gembira. Mereka tidak menyangka bahwa isi dari kotak berjubah hitam itu adalah patung Bima yang terbuat dari lilin.

“Bima, selamat ulang tahun ya, Nak. Ayah dan ibu berharap semoga di ulang tahunmu yang keempat belas ini kamu bisa menjadi anak yang bahagia”, ucap sang ayah lirih.

“Ayah, Ibu, terima kasih. Aku bangga dan turut senang. Ternyata di ulang tahunku yang keempat belas ini kalian memberikan hadiah yang begitu spektakuler. Meski aku tak dapat melihatnya, tetapi aku dapat memegang tiap lekukan dari patung lilin ini. Aku cinta sekali.”

Para tamu undangan terenyuh melihat reaksi dari Bima. Tanpa disadari bulir-bulir air mata mereka jatuh menetes.

Postingan populer dari blog ini

Daya Tarik Sang Homoseksual

Visualisasi Kehidupan Perempuan Terdidik dalam Naskah Drama "Sampek Engtay" Karya N. Riantiarno

Pengirim Novel Sepotong Senja untuk Pacarku

6 Cewek Terpopuler Angkatan IV SMANTAMA

10 Cowok Favorit di Kelas IPS Angkatan IV