Patung Lilin Bima
Masih
teringat jelas bagaimana bus yang membawa kami menghantam tembok pembatas jalan
saat menuju ke desa wisata Randu Alas. Kala itu, semua orang sedang tertidur
lelap karena kondisi cuaca yang dingin. Sejak awal, aku terus dihampiri rasa
khawatir, terlebih lagi ketika malam sebelum keberangkatan. Aku bermimpi
didatangi oleh seorang kakek tua yang melarang cucunya untuk berlibur. Padahal
sang cucu amat sangat menginginkan hal itu. Menurut sang kakek, wisata itu
cukup berbahaya. Namun, sang cucu membantah. Ia merasa bahwa wisata itu sangat
indah.
Tepatnya pada hari Kamis kami berangkat. Seluruh siswa
kelas delapan ikut berwisata. Mereka berangkat menaiki Bus Pariwisata Kuda
Kencana. Satu bus berisi 40 orang termasuk bapak dan ibu guru. Mereka tampak
menikmati liburan pertama ini. Tidak ada rasa kesal atau kecewa dari raut
mereka masing-masing. Namun, belum juga setengah perjalanan. Tiba-tiba bus yang
kami tumpangi mendadak oleng ke kanan. Semua orang di dalam bus itu gaduh dan
teriak. Pak Wali menyarankan sopir bus untuk pelan-pelan saja. Selain jalan
yang bergelombang juga banyaknya tanjakan yang dilalui. Sopir pun mengiyakan.
Hari pun beranjak malam. Suara bising kawanan
jangkrik yang berada di luar menambah keramaian liburan kali ini. Sopir
menyandarkan busnya ke sebuah peristirahatan pinggir jalan. Semua orang pun
keluar dari bus, masing-masing dari mereka sibuk dengan keinginannya. Beberapa
jam kemudian, perjalanan dilanjutkan kembali.
Pada jarak 2 km, bus yang kami tumpangi oleng lagi. Tiba-tiba sebuah
motor mrnyalip dengan kecepatan tinggi, sopir bus yang tengah asyik dengan
hirupan asap rokoknya, mendadak kaget dan membanting setir ke kiri hingga
menabrak pembatas jalan dan masuk ke jurang. Kaca mobil depan pecah begitu juga
dengan kaca samping dekat penumpang. Semua orang berhamburan, sungai darah pun
menyembul seraya meminta pertolongan. Sejam kemudian mobil polisi dan ambulan
datang menyelamatkan korban kecelakaan ini.
Sesampainya
di rumah sakit aku melihat Bima, teman kelasku yang juga duduk di belakangku
dekat Bu Baeti. Aku melihat sekujur tubuhnya yang tidak mengalami luka serius
seperti yang dialami oleh teman-teman lainnya. Akan tetapi, ia terus merintih
kesakitan. Rasa nyeri dibagian kedua matanya yang menjadikan dirinya terus
berteriak. Kata dokter, kedua matanya awas dari penglihatan alias buta
permanen. Sementara itu, tidak hanya Fera, seorang guru bahasa Inggris, sebut
saja Pak Kormo juga mengalami hal yang serius. Kaki kanannya patah akibat
terpelanting ke dasar jurang menembus kaca depan bus. Sedangkan siswa lainnya
hanya luka ringan saja.
Sejak
saat itulah Bima lebih banyak menghambiskan waktunya untuk menyendiri di sudut
kelas. Bahkan, teman-teman di kelasnya enggan untuk berteman karena melihat
fisiknya yang cacat. Padahal sebelum itu, Bima termasuk anak yang periang. Dia
memiliki banyak teman dan seorang sahabat bernama Sukma. Namun, kini Sukma
berbeda, ia telah berubah sejak Bima buta. Menurutnya, Bima adalah sosok yang menyusahkan
orang lain.
Hari
pun berlalu cepat seperti halnya telur ayam yang baru saja menentas, kini ia mulai
menjadi jago yang telah pandai berlari kemana pun ia sukai. Termasuk ke padang
rumput tempat anak desa bermain bola. Kuncup-kuncup bunga pun mulai merekah.
Layaknya payung yang dipakai untuk berteduh dari hujan dan panas.
Orang-orang
mulai berdatangan menuju rumah Bima. Iringan doa pun dipanjatkan. Riuh suara
mengembara hingga ke dalam rumah. Sepertinya, hari ini adalah hari penantian
bagi Bima untuk menyatakan segala kediamannya. Jika tahun lalu ia dapat
mengundang semua teman kelasnya, tetapi tahun ini tidak demikian.
Acara
pun di mulai. Ayah Bima membuka acara ulang tahun anaknya sekaligus memberi
sambutan kepada semua tamu yang diundangnya termasuk panti asuhan yatim piatu
dan Om Sekti. Kata demi kata diluncurkan kehadapan tamu yang hadir. Rintihan
perih air mata seakan ingin keluar diantara sela-sela ucapan.
Setelah
sambutan dari ayah Bima, acara pun dilanjutkan dengan potong kue dan buka
hadiah dari Sekti. Namun sebelum itu, Bima meminta kepada para tamu undangan untuk
mendoakannya agar segera dilepaskan dari segala penyakit yang membelenggu
dirinya termasuk permintaan agar teman-temanya kembali menemaninya.
Lagu
“Ulang Tahun” dinyanyikan secara bersama diiringi musik rebana dari tim panti
asuhan yatim piatu. Kemudian, api-api kecil yang menempel di atas lilin ditiup
perlahan. Iringan doa dipanjatkan agar Bima tetap ceria dan selalu dirindukan
semua orang.
Lekas dari itu, Sekti beraksi. Dia membawa sebuah kotak besar yang ditutupi dengan jubah hitam. Orang-orang yang melihat akan mengira bahwa ia sedang bermain sulap. Padahal bukan itu, Sekti sengaja membawa kotak berjubah hitam sebagai hadiah untuk Bima. Lalu ayah Bima menggandeng ke tengah-tengah dekat dengan kotak hitam itu. Tamu undangan merasa penasaran dengan isi kotak itu.
*
Sudah
jauh-jauh hari, sekolahku mencanangkan untuk berlibur ke desa wisata Randu
Alas. Jarak yang ditempuh memang terbilang cukup jauh sekitar 200 km. Oleh
karenanya, sekolah sengaja menyewa bus pariwisata agar semua siswa di kelas delapan
dan guru dapat ikut berlibur menikmati keindahan desa wisata Randu Alas. Tujuan
awal wisata ini yakni berkunjung ke wisata pemandian air panas, akan tetapi
karena cuaca kurang mendukung akhirnya diganti berlibur ke desa wisata Randu
Alas. Menurut Bu Baeti, selaku wali kelas kami, desa wisata Randu Alas cukup
menjajikan bagi para wisatawan yang melancong ke sana. Selain dimanjakan dengan
kebudayaan dan tradisi masyarakat, wisatawan dapat menikmati keindahan taman
bunga dan buah dibandingkan dengan wisata pemandian air panas.
*
Dua
minggu lagi, Bima akan berulang tahun. Akan tetapi, dia bingung akan mengundang
siapa. Akhirnya, sang ibunda mengusulkan untuk mengundang anak yatim piatu.
Ayah Bima akan membuatkan pesta semeriah mungkin. Selain itu, ayahnya juga akan
mengundang teman lamanya, seorang seniman berbakat bernama Sekti Pringgadana.
Di masa kuliahnya, Sekti memang handal dalam membuat berbagai macam kerajinan,
seperti ukiran, topeng, keramik dan lain sebagainya. Untuk itulah, Sekti
diundang agar membuatkan ikon Bima berbahan lilin. Sekaligus sebagai hadiah
ulang tahunnya.
“Saya ucapkan beribu
terima kasih kepada Bapak, Ibu, adik-adik sekalian yang telah meluangkan
waktunya untuk memenuhi undangan ini”, ucap ayah Bima.
“Memang, hari ini
berbeda jauh dengan setahun yang lalu. Di mana kala itu Bima masih bisa menjamu
teman-temannya untuk datang ke rumah. Akan tetapi, hari ini, saudara-saudara
sekalian lah yang menggantingkan mereka. Syukur kepada Allah yang masih
memberikan kesempatan bagi keluarga kami untuk menjamu saudara-saudara
sekalian. Semoga Bima menjadi anak yang sholeh dan segala penyakitnya diangkat
oleh Allah swt.”
“Amiin”, jawab tamu undangan.
Lekas dari itu, Sekti beraksi. Dia membawa sebuah kotak besar yang ditutupi dengan jubah hitam. Orang-orang yang melihat akan mengira bahwa ia sedang bermain sulap. Padahal bukan itu, Sekti sengaja membawa kotak berjubah hitam sebagai hadiah untuk Bima. Lalu ayah Bima menggandeng ke tengah-tengah dekat dengan kotak hitam itu. Tamu undangan merasa penasaran dengan isi kotak itu.
Kemudian Sekti menyuruh
tamu yang hadir untuk memberikan aba-aba ketika kotak akan dibuka.
“Baiklah,
saudara-saudaraku sekalian. Untuk menyemangati Bima pada ulang tahunnya yang
keempat belas. Mari kita menghitung bersama untuk membuka kotak ini”, kata
Sekti dengan semangat.
Bima semakin deg-degan
dengan isi di dalam kotak itu. Ia merasa bahagia sekaligus cemas. Karena ia
juga tak tahu apakah itu benar kotak hitam yang berisi atau hanya omong kosong
belaka agar acara terlihat meriah.
Sekti memberi aba-aba
kepada tamu undangan yang hadir untuk menghitung mundur.
“Tigaa ... Dua ... Satuuu ...”
Tamu undangan pun
bersorak gembira. Mereka tidak menyangka bahwa isi dari kotak berjubah hitam
itu adalah patung Bima yang terbuat dari lilin.
“Bima, selamat ulang
tahun ya, Nak. Ayah dan ibu berharap semoga di ulang tahunmu yang keempat belas
ini kamu bisa menjadi anak yang bahagia”, ucap sang ayah lirih.
“Ayah, Ibu, terima
kasih. Aku bangga dan turut senang. Ternyata di ulang tahunku yang keempat
belas ini kalian memberikan hadiah yang begitu spektakuler. Meski aku tak dapat
melihatnya, tetapi aku dapat memegang tiap lekukan dari patung lilin ini. Aku
cinta sekali.”
Para tamu undangan
terenyuh melihat reaksi dari Bima. Tanpa disadari bulir-bulir air mata mereka
jatuh menetes.