Sepenggal Kasih untuk Ibu



                                          
Raut  wajah disertai kerutan kening tak membuat semangat seorang wanita ini untuk keluarganya berkurang  sedikitpun. Sosok wanita yang begitu pekerja keras meski kaki yang dimilikinya tidak sempurna seperti yang lain. Walaupun ditinggal oleh suami bekerja menjadi kuli bangunan di Jakarta, ini tak pernah membuat beliau putus asa untuk merawat anak semata wayangnya dengan baik. Ibu berputra satu ini memilih untuk menjadi buruh cuci demi membantu kehidupan keluarganya. Jamal adalah nama yang diberikan oleh wanita ini untuk anak satu-satunya. Jamal adalah anak yang pintar. Juara kelas selalu disandangnya 3 tahun terakhir ini. Jamal sekarang duduk di kelas 3 SD. Zaman sekarang anak SD sudah mengikuti berbagai bimbel, tapi tidak untuk Jamal. Selain tak ada biaya, lewat sang ibu pertanyaan yang Jamal lontarkan tentang pelajaran yang ia terima di sekolah selalu terjawab dengan baik. Ibu bukan hanya cerdas dalam hal pelajaran, tapi Ibu juga cerdas memberikan pemahaman agama kepada Jamal. Ibu selalu mengajarkan bahwa kita harus bersyukur kepada Allah, karena apa yang telah Allah berikan itu adalah yang terbaik bagi hamba-Nya.
Terlihat ibu sedang berjalan dengan krek yang selalu menemaninya. Memang dari kecil ibu memiliki keterbatasan yaitu kakinya yang kanan lebih pendek dari pada yang kiri. Karena itulah kakinya tidak dapat seimbang  untuk berjalan tanpa alat bantuan. Ternyata ibu baru pulang dari warung untuk belanja makan siang. Dilihatnya Jamal sedang duduk membaca buku.
‘’Assalamu’alaikum…’’,salam ibu sambil masuk rumah.
‘’Wa’alaikumsalam…’’, jawab Jamal.
‘’Wah…anak ibu sudah pulang. Kok pulangnya lebih awal dari biasanya?’’, tanya ibu.
‘’Ya, besok kan sudah penerimaan rapot  jadi dibubarkan’’,jawab Jamal.
‘’Ooo…”, jawab ibu mengerti.
‘’Oya ibu, besok yang mengambil rapot siapa?’’, tanya Jamal.
‘’Ehmm…bapak kan belum pulang, jadi ibu yang mengambil’’, jawab ibu.
Jamal terdiam sejenak,ia terkejut akan hal itu. Pikirannya melayang membayangkan bagaimana reaksi teman-temannya kalau melihat ibu yang selalu dipuji di depan teman-temannya karena pintar ternyata cacat. Sebenarnya ia sangat sayang terhadap ibunya, tapi ia tidak siap jika dihina dan dipermalukan oleh teman-temanya kerena hal ini.
‘’Jamal…kok diam?’’, tanya ibu.
‘’Apa  ibu?’’, jawab Jamal terkejut.
‘’Kenapa diam?’’, tanya ibu kembali.
‘’Ti..ti..tidak apa-apa bu’’, jawab Jamal dengan terbata-bata.
Mulai saat itu wajah cemberut mulai terlihat dari Jamal. Disuruh untuk makan siang dan makan malam oleh ibunya juga sangat susah. Tidak biasanya Jamal seperti ini. Ibunya bingung, sebenarnya apa yang terjadi pada anaknya.
Didalam kamar Jamal tidak berani memikirkan apa yang akan terjadi besok. Namun tetap saja bayangan ekspresi teman-teman yang akan mengejek karena keadaan ibu Jamal selalu menghantui pikirannya. Ibu yang selalu dibanggakan Jamal di depan teman-teman ternyata tidak normal. Apa yang harus ia lakukan? Jamal rasanya ingin menjerit dan kabur  saja dari rumah. Tapi itu hanya sebuah hal konyol yang tak mungkin ia lakukan.
‘’Ya Allah…berikanlah Jamal kekuatan buat besok. Amin’’, harap anak kecil yang lugu ini.
Akhirnya esok pun datang. Jamal dan ibu berjalan kaki ke sekolah karena jarak sekolah dan rumah agak dekat. Di perjalanan Jamal tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ibu hanya melihat wajah Jamal dengan bingung. Ibu berpikir mungkin anaknya merasa cemas bagaimana hasil nilainya.
Sampai di sekolah Jamal dan Ibu sudah ditunggu oleh wali kelas untuk pengumuman hasil rapot. Semua mata tertuju pada mereka berdua. Namun Jamal dan Ibu hanya tersenyum. Wali kelas mulai menyampaikan hasil nilai rapot dan ternyata Jamal kembali menjadi juara kelas. Betapa bangganya ibu pada Jamal. Tapi Jamal seolah tidak menghiraukan hal itu. Ibu menjadi semakin bingung.
Tiba-tiba para wali murid dan teman-teman Jamal menghampiri ibu dan Jamal. Mereka mengucapkan selamat kepada ibu dan Jamal. Betapa kagetnya Jamal akan hal itu. Ternyata teman-temannya tak seperti apa yang ia pikirkan. Senyum di bibirnya mulai berkembang. Dalam hatinya ia merasa sangat bersalah pada teman-teman. Ia telah su’udzon kepada temannya sendiri. Apalagi pada ibu. Ibu sesempurna ini mengapa tidak Jamal syukuri. Walaupun ada keterbatasan tapi memang sewajarnya seorang hamba punya kekurangan. Namun dibalik kekurangan itu ibu memiliki kelebihan yang tidak dimilik oleh ibu-ibu yang lain. Ibu adalah wanita yang kuat dan pandai dalam segala hal. Jamal menyadari akan kesalahannya. Dalam perjalanan pulang terjadi obrolan kecil antara Jamal dan ibunya.
‘’Ibu..terimakasih  ya, Jamal juga mau minta maaf’’,kata Jamal.
‘’Ya sama-sama. Tapi minta maaf kenapa?’’,tanya ibu.
‘’Ehmm…”,jawab Jamal bingung.
‘’Ya udah…ibu tau,nggak papa kok’’,jawab ibu dengan senyum.
Senyum itupun dibalas oleh Jamal dengan senyum yang penuh kebahagiaan karena memiliki seorang ibu yang begitu sempurna baginya.

Dedicated for all extraordinary mothers in the world ...







Postingan populer dari blog ini

Daya Tarik Sang Homoseksual

Visualisasi Kehidupan Perempuan Terdidik dalam Naskah Drama "Sampek Engtay" Karya N. Riantiarno

Pengirim Novel Sepotong Senja untuk Pacarku

6 Cewek Terpopuler Angkatan IV SMANTAMA

10 Cowok Favorit di Kelas IPS Angkatan IV