Gara-gara Diskusi dan Makan Siang


 
Tadinya kami hanya ingin berdiskusi terkait dengan tugas kuliah yang cukup membingungkan. Aku sebagai pelopor dalam tim ini, mengajak dua orang temanku untuk berdiskusi sekaligus makan siang. Kebetulan sekali salah satu temanku, bernama Wulan, ingin makan siang dengan semangkok mie ayam. Akhirnya, aku mengajak mereka berdua ke sebuah resto di daerah Sagan yang tidak jauh dari letak kampus.
Setibanya di resto itu, si Wulan langsung memilih menu dengan pilihan semangkok mie ayam level 1 diikuti aku dan Lina. Sambil menunggu pesanan, kami pun memulai diskusi pertama terkait dengan tugas mata kuliah yang akan dipresentasikan minggu depan. Sebenarnya tugas itu sudah dua minggu belum kami kerjakan. Alasan kami hanya satu yaitu, “Ah masih lama, nanti-nanti aja lah.”
Pesanan kami pun tiba. Kehangatan dari kuah kaldu mie ayam terasa begitu lezat. Sungguh kami tidak sabar untuk menyantapnya dan menghabisi hingga tetes terakhir. Mengapa kami memilih di resto sekitaran Sagan. Karena tempatnya yang strategis di pinggir jalan raya dan harganya sesuai dengan kantong mahasiswa.

***

“Ehm ... Sedaaaaap. Aroma kaldunya mantap,” ucap Wulan dengan wajah polos.
“Hooh, yo. Kamu hebat juga, Tham. Memilih tempat diskusi yang pas,” ujar Lina sambil geleng-geleng kepala.
“Siapa dulu, ane gitu looohh.” Aku pun sedikit sombong.
Makan siang kali ini terasa lebih lengkap, jika kita dapat menebar kasih dengan orang lain. Termasuk para pengemis dan pengamen jalanan yang mampir tiap hari di resto-resto pinggir jalan.
Setelah diskusi yang pertama, kami membuka diskusi yang kedua berkaitan dengan bahan penelitian yang akan diikut sertakan dalam lomba tingkat mahasiswa.
Akhir-akhir ini kami memang lebih banyak membahas terkait dengan permasalahan yang ada di lingkungan masyarakat baik itu berhubungan dengan budaya, kesehatan bahkan sosial kemasyarakatan itu sendiri. Intinya, kami selaku mahasiswa ingin mengabdi untuk masyarakat, bangsa dan negara sesuai dengan “Tri Dharma Perguruan Tinggi”.
Penelitian yang kami usung ini, juga tidak lepas dari diskusi di salah satu tempat makan di daerah Kotabaru, minggu lalu. Kegiatan itu berlangsung lama, kurang lebih sekitar tiga jam. Tetapi hasil yang di dapatkan sangat masuk akal dan bagaimana caranya penelitian ini dapat goal PIMNAS.

***

“Alhamdulillah ....” Diskusi dan makan siang hari ini berjalan dengan lancar.
Tiba-tiba si Wulan mengajukan pernyataan.
“Enak ya, jadi cowok.”
Kami berdua merasa heran dengan pernyataan ini.
“Kok bisa,” jawabku padanya.
“Iya, kehidupan seorang cowok itu tidak demikian sulit. Coba kamu bayangkan saja. Di sebuah rumah atau dalam sebuah pekerjaan. Yang namanya cowok itu tidak akan kesulitan mengerjakan segala sesuatunya. Mereka dapat dengan mudah. Tidak seperti cewek yang harus rempong.” Dia mengatakan sedemikian rupa.
“Ahh ... tidak juga.”
“Coba deh kalo kamu jadi cewek. Semuanya mesti diatur. Ini dikit, itu dikit jadi bahan cerita. Kemana-mana gak boleh pulang malem. Apalagi kalo udah keluar malem. Pasti gak boleh pulang di atas jam 9. Coba kalo cowok, pasti di bebaskan.”
“Masa. Yakin.”
“Sumpah, aku pengen banget jadi cowok,” ungkap Wulan.
“Udah nggak banyak masalah dan serba simple.
“What’s? Transgender?” teriakku mengagetkan dia.
“Semunya kembali pada diri masing-masing. Lebih baik kamu banyak banyak bersyukur aja.”

@catatan.alther.com
2 April 2014








Postingan populer dari blog ini

Daya Tarik Sang Homoseksual

Visualisasi Kehidupan Perempuan Terdidik dalam Naskah Drama "Sampek Engtay" Karya N. Riantiarno

Pengirim Novel Sepotong Senja untuk Pacarku

6 Cewek Terpopuler Angkatan IV SMANTAMA

10 Cowok Favorit di Kelas IPS Angkatan IV