Pencuri Mistis dalam Bayangan Kekayaan
Alasan
yang melatarbelakangi saya memberikan judul analisis "Pencuri Mistis
dalam Bayangan Kekayaan" yaitu mengerucut pada tokoh utama yang
digambarkan dalam cerpen dengan ciri-ciri laki-laki beristri, memiliki
anak dan sanak saudara, penuh dengan keyakinan gaib (mistis) yang dengan
hal yang demikian itu akan mudah memperoleh kekayaan yang diinginkan
dengan rela melakukan meditasi dan pantang menyerah dalam segala bentuk.
Selanjutnya,
hasil analisis dari cerpen "Anjing-anjing Menyerbu Kuburan" karya
Kuntowijoyo berupa penyampaian pesan dan pengetahuan yang dituturkan
oleh pengarang secara tertulis kepada pembaca bahwa representasi dari
cerpen ini mengacu pada kemistisan masyarakat Jawa yang masih menganggap
bahwa percaya dengan kehidupan gaib adalah cara yang tepat agar segala
permintaan dapat terkabul.
Adapun
beberapa rangkuman dari hasil analisis ini bahwa kepercayaan atau mitos
malam Selasa Kliwon menjadi berkah tersendiri bagi orang-orang yang
masih percaya bahwa bakal ada sesosok makhluk yang dapat mengabulkan
permintaan mereka tanpa hambatan. Malam Selasa Kliwon sebenarnya serupa
dengan malam Jumat Kliwon yakni cenderung bersifat mistis dan penuh
kekuatan gaib. Jika ditilik dari segi geografi wilayah yang ada dalam
cerpen ini tampak makin jelas dan menguatkan bahwa tradisi Jawa masih
amat kental. Seperti dalam penggalan kalimat ini, "Beruntunglah ia,
makam itu terletak di gundukan pinggir desa, sehingga kantong itu tidak
berpengaruh apa-apa pada penduduk desa yang di makam itu."
Kemudian,
stratifikasi sosial masyarakat pada cerpen ini yaitu kalangan bawah
atau dalam pemahaman Marxiz disebut kelas buruh, yaitu mereka yang
tertindas dengan melakukan pekerjaan tetapi tidak memiliki tempat dan
sarana kerja, mereka terpaksa menjual tenaga kerja kepada kelas pemilik
itu (Magnis-Suseno melalui Wiyatmi, 97). Hal ini tercermin dalam kalimat
yang dituliskan pengarang: "Ada teplok di rumahnya, tapi lampu itu
kalah dengan gelap malam."
Kata teplok sering dijumpai pada masyarakat kalangan bawah yakni lampu tempel bersumbu dan menggunakan bahan bakar minyak. Sementara, kata petromaks dalam
penggalan cerpen, "Mereka akan bergerombol di sekitar petromaks yang
dibawa dari desa." Keduanya memiliki pengaruh yang sama, meski nyala petromaks lebih terang daripada nyala teplok.
Hal
lainnya, pengarang juga memberikan bukti dialog yang menunjukkan bukti
stratifikasi sosial yang terdapat dalam cerpen ini, "Oahem sok ruwah
mangan apem" artinya Oahem besok bulan puasa makan apem. Kata apem sendiri
memiliki arti sebagai kue yang dibuat dari tepung beras yang diberi
ragi, santan, dan gula. Bentuknya bulat, dimasak di wajan kecil di atas
api atau bara arang atau kayu bakar yang relatif tidak panas atau api
sedang. Apem atau kata bakunya apam cenderung dimakan oleh masyarakat kalangan bawah yang dihidangkan sebagai makanan pada acara kenduren atau kenduri.
Kesimpulannya adalah cerpen berjudul "Anjing-anjing Menyerbu Kuburan" karya Kuntowijoyo mengisyaratkan bahwa masyarakat Jawa masih
setia dan percaya dengan kekuatan mistis yang akan membawa mereka pada
tataran hidup yang lebih baik meskipun secara agama hal ini sama dengan
menyukutukan Sang Pencipta. Mereka percaya malam-malam sakral pada
Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon merupakan pertanda baik bagi mereka untuk
memanjatkan permintaan.
Sumber Referensi:
Wiyatmi. 2013. Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Kanwa Publisher.